konsep iqra'




Konsep iqra’ dalam Al Qur’an


Iqra’ merupakan wahyu pertama yang diturunkan oleh Allah  kepada Nabi Muhammad Saw. Melalui perantara malaikat jibril. Kata iqra’ terkandung dalam surah Al ‘alaq ayat pertama dan ke-3. Bacalah! Demikian kata malaikat jibril kepada nabi Muhammad Saw. Apa yang dibaca? Sedang Rasulullah adalah seorang yang Ummi (tidak dapat membaca dan menulis). Disini Allah tidak menyebutkan objeknya,bermakna iqra’ ini memiliki makna yang sangat mendalam, tidak sekedar membaca teks yang tertulis.
Karena objeknya tidak disebutkan apa yang dibaca, maka iqra memiliki makna yang umum, tidak terbatas pada suatu konteks saja. Allah memerintahkan kita untuk membaca apa yang nampak maupun yang tidak tampak dengan cara berpikir yang kritis. Dari apa yang kita lihat kita dituntut untuk berpikir dan menganalisa mengapa dan bagaimana hal tersebut terjadi.
Kata "iqra'" terambil dari kata "qara'a", yang pada mulanya berarti "menghimpun". Dari sini ditemukan dalam kamus-kamus bahasa, arti yang beraneka ragam, antara lain: menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, mengetahui ciri sesuatu. "Perintah membaca" di atas tidak ditemukan tentang objek yang harus dibaca dari wahyu tersebut, tidak dikaitkan dengan satu objek tertentu. Karena itu dapat disimpulkan bahwa objeknya bersifat umum, mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkau oleh kata "baca" dengan makna-makna yang disebutkan di atas. Di antara objek-objek itu adalah: kitab suci, alam raya, masyarakat, koran, majalah, termasuk diri sendiri. Tetapi ingat, kesemuanya ini harus dikaitkan dengan "bismi rabbika" (demi karena  Allah ) . Insya'-Allah hasil "iqra'" kita dapat mendatangkan kemurahan anugerah-Nya berupa pengetahuan, pemahaman, dan wawasan baru walaupun objek bacaannya sama, yang dengannya sedapat mungkin mewujudkan suatu kehidupan yang maju dan bahagia.
Makna bacalah yang terdapat dalam kata iqra’ ini berbeda dengan konsep bacalah yang terdapat dalam kata “uthlu” dalam QS Al ankabut ayat 45. Kedua kata tersebut memang sama-sama diartikan bacalah, tapi uthlu tersebut lebih tepatnya membaca yang sudah pasti benar dan yang tersurat serta memahaminya, contohnya seperti membaca Al Qur’an. sedangkan iqra’ memiliki makna yang lebih luas. Iqra bermakna membaca Sesutu yang tersurat maupun yang tersirat, termasuk di dalamnya membaca keaadaan sekitar, baik keadaan social maupun keadaan alam.
Dalam konteks ini makna yang terkandung dalam kata iqra’, yaitu perintah untuk membaca, memahami, menganalis kemudian mampu merealisasikan kedalam kehidupan dalam bentuk amal melalui ilmu yang diperoleh dari proses iqra’ tersebut. Jadi, dapat disimpulkan iqra’ dapat  adalah mengamati sutu objek dan mengali informasi dari objek tersebut kemudian menganilis informasi yang didapatkan dengan melekukukan penelitian, sehingga informasi yang didapat bisa menjadi sutu ilmu pengetahuan yang dapat dimplementasikan dalam kehidupn, yang bisa bermanfaan alam masalah duniawi maupun ukhrawi.
Sejatinya Perintah membaca ini tidak hanya ditujukan kepada nabi Muhammad Saw. Tetapi juga ditujukan kepada seluruh manusia. Bagaimana kemampuan suatu kaum membaca maka akan menentukan sejauh mana perkembangan peradaban kaum tersebut. karena sejauh mana kita mampu menerapkan konsep membaca ini maka sejauh itulah luas ilmu pengetahuan yang telah kita gali.
Manusia bertugas sebagai hamba dan juga sebagai khalifah di muka bumi ini. Kedua fungsi ini adalah konsekuensi dari potensi keilmuan yang dianugerahkan Allah kepada manusia yang merupakan persyaratan mutlak bagi kesempurnaan pelaksanaan kedua tugas tersebut. Kekhalifahan menuntut hubungan antara manusia dengan manusia, hubungan dengan alam serta hubungan dengan Allah. Kekhalifahan juga menuntut kearifan. Karena, agar manusia mampu mencapai tujuan diciptakannya sebagai khalifah, maka dibutuhkan adanya pengenalan terhadap alam raya, yaitu dengan usaha qira’at (membaca, menelaah, mengkaji, meneliti, dan lain-lain).
Sungguh iqra’ ini merupakan perintah yang luar biasa dari sang pencipta. Untuk benar-benar menjadi khalifah yang ideal kita harus membaca segala situasi yang ada, membuka wawasan dan melakukan berbagai penelitian guna mampu menata bumi ini dengan sempurna. Jika memang kaum muslimin menerapkan perintah iqra’ ini dengan sempurna, sungguh kita tidak akan ketinggalan dari Negara-negara barat. Al Qur’an merupakan sumber ilmu pengetahuan dan sumber bacaan yang paling sempurna.
Sudah sepatutnya kita membaca Al qur’an ini sesuai dengan perintah iqra’ yang Allah perintahkan, kita pahami, renungkan sehingga mendapat informasi yang hendak disampaikan, kemudian kita analisa dan teliti hingga kita benar-benar mendapatkan maknanya. Sehingga patutlah manusia itu disebut sebagai khalifah di muka bumi ini yang dapat memelihara bukan malah merusaknya.
Sehingga tidak berlebihan bila dikatakan bahwa membaca adalah syarat utama guna membangun peradaban. Dan perlu diketahui bahwa semakin luas pembacaan semakin tinggi peradaban, sebaliknya semakin sedikit bacaan sutu kaum maka semakin rendah pula peradaban kaum tersebut. maka usaha untuk menggalakkan budaya membaca adalah hal yang sangat urgen untuk dikembangkan dan sosialisasikan serta diusahakan. Maka tidak mustahil jika pada suatu ketika manusia akan didefinisikan sebagai “makhluk membaca”, sutu definisi yang tidak kurang nilai kebenarannya dari definisi-definisi semacam “makhluk social” atau “makhluk berfikir”.
Lantas sejauh mana ruang lingkup iqra’ ini? Kelanjutan ayat ini Allah menyatakan “bacalah (dengan menyebut) nama tuhanmu yang menciptakan”, ini dapat bermakna Allah tidak memberi batasan kepada manusia tentang apa yang harus di bacanya, selama itu tidak bertentangan dengan hukum Allah. Allah telah perintahkan kepada kita untuk membaca, mempelajari dan menggali ilmu pengetahuan dengan seluas-luasnya, selama tidak bertentangan apa yang telah Allah tetapkan. Jadi, secanggih apapun penemuan apabila bertentangan dengan hukum-hukum Allah, maka bukan itu yang Allah perintahkan dalam konteks iqra’ ini.
Sebagaimana Allah berfirman dalam QS Luqman  ayat   27 yang artinya:
“dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah.Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
Sungguh ilmu Allah itu maha luas, mencakup tujuh langit dan tujuh bumi. Seluas itulah Allah perintahkan kita untuk membaca, membaca setiap ilmu yang telah Allah turunkan, agar manusia mendapatkan ilmu tersebut. karena ilmu yang maha luas itu tidak akan datang sendiri kepada kita dengan semena-mena tanpa kita berusaha mencarinya. Bagaimana cara kita mencarinya? Ya dengan megaplikasikan konsep iqra’ ini. Kita di tuntut untuk menggali ilmu yang tiada batasannya ini dengan metode-metode yang tiada batas, sesuai dengan metode yang kita rasa sesuai dengan kemampuan kita, sehingga mampu memperoleh ilmu tersebut dan dapat diterapkan demi kemajuan diri, ummat maupun negeri serta alam semesta.
Itulah konsep iqra’ yang ada dalam Al qur’an. Membaca tidak hanya sekedar ayat-ayat Qauliyah tetapi juga ayat-ayat kauinyah. Tidak hanya membaca sesuatu yang ada dalam teks, tetapi lebih luasnya membaca apa yang ada disekitar, membaca ilmu yang telah Allah turunkan yang ilmu itu maha luas.
 Iqra’ bukan sekedar membaca teks dengan melafazkan huruf demi huruf, tapi lebih tepatnya iqra’ didefinisikan sebagai suatu metode memperoleh ilmu pengetahuan seperti telah dijelaskan di atas, mulai dari melihat, memikirkan, meneliti hingga akhirnya mengaplikasi dalam bentuk tindakan nyata demi mencapai kemakmuran dunia maupun akhirat. Objek bacaan yang luas ini tetap tidak boleh menyimpang dari ajaran yang Allah tetapkan, dengan demikian manusia harus menyertakan Allah dalam setiap objek yang ditelitinya. Harus ada keyakinan dalam diri manusia bahwasanya setiap sesuatu yang ada di jagat raya ini adalah ciptaan Allah Swt.
Perintah membaca merupakan perintah yang begitu agung dari Allah, karena manusia yang diciptakan sebagai khalifah di muka bumi ini harus mampu mengaplikasikan iqra’ ini dalam menjalankan tugasnya sebagai khalifah agar mampu menciptakan negeri yang berperadaban tinggi.

Komentar

Postingan Populer