Ruang Lingkup Psikologi Agama
psikologi
agama merupakan salah satu cabag ilmu psikologi yang mempelajari tingkah laku
manusia dalam hubungan dengan pegaruh keyakinan terhadap agama yang dianutnya
serta dalam kaitannya dengan pengaruh usia masing-masing. Psikologi agama perlu
dipelajari oleh mahasiswa bki karena pendekatan yang digunakan dalam bki ini
adalah pendekatan agama, yaitu pendekatan agama islam. Konselor harus
mengetahui bagaimana jiwa keagamaan dan perkembangan jiwa keagaamaan klien agar
mudah dalam melakukan praktik bimbingan dan konseling. Mempelajari psikologi agama
bagi konselor juga bertujuan agar konseli mampu memberikan bimbingan maupun
konseling kepada konseli sesuai bagaimana keadaan jiwa keagamaan kliennya.
Tiadak
dapat dikatakan dengan pasti kpan kajian tentang psikologi agama mulai
berkembang, baik dalam kitab suci maupun sejarah tentang agama-agama tidak
terungkap secara jelas mengenai hal itu. Untuk menetapkan secara pasti kapan psikologi agama mulai
dipelajari memang terasa agak sulit. Baik dalam kitab suci maupun sejarah
tentang agama-agama tidak terungkap secara jelas mengenai hal itu. namun
demikian, walaupun tidak secara lengkap, ternyata permasalahan yang menjadi ruang
lingkup kajian psikologi agama banyak dijumpai baik melalui informasi kitab
suci maupun sejarah agama.
Zakiah Daradjat (1970:12-13) menyatakan bahwa yang mula-mula
berani mengemukakan hasil penelitiannya secara ilmiah tentang agama ialah
Flazer dan Taylor. Mereka mengungkap berbagai macam agama primitif dan
menemukan persamaan yang sangat jelas antara berbagai bentuk peribadatan dan
peribadatan pada orang-orang Primitif, seperti pengorbanan karena dosa warisan,
keingkaran, hari berbangkit dan sebagainya. Hasil penelitian Frezer dan taylor
tersebut telah membangkitkan perhatian ahli-ahli untuk memandang agama sebagai
suatu aspek yang dapat diteliti dan dipelajari sebagaimana aspek-aspek lain
dalam kehidupan manusia.
Sementara itu, Jalaluddin (2004:29) yang mengutip pernyataan
Robert H Thouless (1992:29) mengemukakan bahwa, menurut sumber barat, para ahli
psikologi agama menilai bahwa kajian psikologi agama mulai popular sekitar
akhir abad ke-19. Sekitar masa itu, psikologi yang semakin berkembang digunakan
sebagi alat untuk kajian agama.
Menurut Robert H. Thouless, sejak terbitnya buku the varieties
of religious experience tahun 1903, sebagai kumpulan dari materi kuliah
William James di tempat universitas di Skotlandia, langkah awal dari kajian
psikologi agama mulai diakui para ahli psikologi dan dalam jangka waktu tiga
puluh tahun berikutnya,banyak buku lain diterbitkan sejalan dengan
konsep-konsep yang serupa.
Di tanah air sendiri tulisan mengenai psikologi agama ini
baru dikenal sekitar tahun 1970-an, yaitu oleh Prof. Dr. Zakiah Daradjat. Ada
sejumlah buku yang beliau tulis untuk kepentingan buku pegangan bagi mahasiswa
di lingkungan IAIN. Diluar itu, kuliah mengenai psikologi agama juga sudah
diberikan, khususnya di Fakultas Tarbiyah oleh Prof. Dr. A. Mukti Ali dan Prof.
Dr. Zakiah Daradjat sendiri. Kedua orang ini dikenal sebagai pelopor
pengembangan psikologi agama di IAIN di Indonesia.
Salah
satu tahap perkembangan jiwa keagamaan adalah perkembangan jiwa keagamaan pada
anak. ini dimulai sejak anak memasuki tahap sekolah dasar hingga usia adolness.
Pada masa ini ide ke-Tuhan-an anak sudah mencerminkan konsep-konsep yang
berdasarkan kepada kenyataan (real). Konsep ini timbul melalui lingkungan keluarga,
teman bermain, lembaga-lembaga keagamaan dan pengajaran serta orang dewasa
lainnya. Pada masa ini pula, ide keagamaan pada anak dilandasi ide emosi. Untuk
itu mereka sudah mulai menghadirkan konsep ketuhanan yang lebih formal. Pada
masa ini anak-anak tertarik dan senang pada lembaga keagamaan yang mereka lihat
dikerjakan oleh orang dewasa yang berada dalam lingkungan di sekitar mereka.
Misalnya kegiatan Musabaqah Tilawatil Qur’an, majelis taklim yang diikuti
orangtuanya, dan lain sebagainya.
Dapat
disimpulkan pada masa tersebut anak-anak mengikuti dan memiliki rasa ingin tahu
yang tinggi terhadap segala bentuk tindak, tingkah laku atau perbuatan (amal)
keagamaan mereka ikuti.Mengenai hakikat dasar manusia, manusia itu hakikatnya
pada saat dilahirkan ke dunia semuanya sama, yaitu dalam keadaan fitrah (suci).
Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah Saw dalam sebuah hadis.
“Tidaklah
setiap anak yang lahir kecuali dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua
orang tuanyalah yang akan menjadikannya sebagai Yahudi, Nasrani, atau Majusi.
Seperti hewan melahirkan anaknya yang sempurna, apakah kalian melihat darinya
buntung (pada telinga)?”
Hadits
diriwayatkan oleh Al-Imam Malik rahimahullahu dalam Al-Muwaththa` (no. 507);
Al-Imam Ahmad rahimahullahu dalam Musnad-nya (no. 8739); Al-Imam Al-Bukhari
rahimahullahu dalam Kitabul Jana`iz (no. 1358, 1359, 1385), Kitabut Tafsir (no.
4775), Kitabul Qadar (no. 6599); Al-Imam Muslim rahimahullahu dalam Kitabul
Qadar (no. 2658).
Dari hadis diatas, Rasulullah menginformasikan
kepada kita bahwa peran orang tua lah yang menumbuhkan jiwa keagamaan pada
individu baru tersebut. orang tua merupakan sebab seorang anak berpegang pada
suatu agama, baru kemudian lingkunngan dan factor lainnya yang juga akan
berpengaruh sesuai dengan perkembangan kejiawaan anak tersebut.
Jika demikian, apakah yang sudah
dilakukan oleh orangtua untuk anaknya? Adakah keinginan untuk menyenangkan anak
cukup dengan mengikuti dan memenuhi segala apa yang disenangi dan dimaui, tanpa
memedulikan keselamatan agamanya? Sudahkah seorang ayah atau ibu memberikan
atau mengupayakan sesuatu yang dapat menjadi sebab untuk menguatkan sang anak
agar ia hidup dan meninggal tetap berada di atas fitrahnya? Tidakkah seorang
menyadari bahwa orangtua menjadi sebab akan agama yang dianut anaknya? Di
manakah dia berada? Wallahu a’lam bish-shawab…
Daftar
pustaka
Drajat,
Zakiah. Ilmu Jiwa Agama. 2005.
Jakarta : Bulan bintang.
Jalaluddin.
Psikologi Agama. 2005. Jakarta: PT Grafindo
Persada.
Mubarok,
Achmad. Konseling Agama Teori dan kasus. 2000. Jakarta : PT Bina Rena
Pariwar
Arifin
Syamsul Bambang. Psikologi Agama.
2008. Bandung : CV. Pustaka Setia.
Thouless, Robert. Pengantar Psikologi Agama, terj.
Machnun Husein.1992. Jakarta : Rajawali.


assalamu alaikum ...
BalasHapussupaya lebih enak kita baca baiknya menggunakan rata kiri kanan ...
#cuma sedikit masukan
Tulisannya bagus, cuma masih banyak salah pengetikan, semangat terus semoga ke depan lebih baik lagi
BalasHapusTerimakasih masukannya.. (y)
BalasHapusAssalamu'alaikum
BalasHapusSedikit masukan
Untuk lebih menarik si pembaca akan lebih baiknya saudari bisa membuat atau menambah gambar yang berhubungan dengan materi #syukran ��
Assalamu'alaikum
BalasHapusSedikit masukan
Untuk lebih menarik si pembaca akan lebih baiknya saudari bisa membuat atau menambah gambar yang berhubungan dengan materi #syukran ��